Senja di Ujung Batas
-AL
Senja merangkak pelan, menyapu langit yang kelam,
Warna jingga dan ungu berpadu dalam hening,
Angin berbisik, membawa nama-nama yang terlupa,
Di ujung cakrawala, waktu seperti terhenti,
Aku terdiam, menatap mentari yang tenggelam.
Burung-burung pulang, meninggalkan ranting yang rapuh,
Bayang-bayang memanjang, menyentuh tanah gersang,
Suara azan menggema, memecah kesunyian,
Kaki ini berat, melangkah di jalan sunyi,
Mencari makna dalam debu-debu yang beterbang.
Lautan emas di ufuk barat semakin pudar,
Gemersik daun kering, bercerita tentang lelah,
Awan hitam bergulung, mengisyaratkan hujan,
Namun tak setetes pun membasahi bumi,
Hanya rindu yang menggenang, dalam dada yang pekat.
Lampu-lampu mulai menyala, di rumah-rumah jauh,
Setiap cahaya seperti mata yang berkedip,
Mengintip kisah-kisah yang tak terucap,
Aku masih di sini, di tepi waktu yang kabur,
Menanti sesuatu yang mungkin tak pernah datang.
Senja pun berlalu, diganti malam yang kelam,
Bintang-bintang muncul, satu per satu bersinar,
Tapi tak ada yang seterang senyummu dulu,
Kini hanya dingin yang menemani lamunan,
Dan bayangmu yang terus menghilang di ujung batas.
Mungkin besok senja akan datang lagi,
Dengan warna yang sama, atau mungkin berbeda,
Tapi takkan lagi kudengar tawamu,
Di ujung batas ini, hanya ada sunyi,
Dan senja yang merangkul sisa-sisa rindu.
