Merpati Pagi
‘AL
Merpati putih terbang rendah,
menyapu kabut yang menggantung.
Paruhnya kecil membawa kabar,
dari langit yang baru terjaga.
Kaki mungilnya hinggap di jendela, mengetuk pagi.
Matanya bulat berkilauan,
memandangku penuh tanya.
Seolah bertanya tentang mimpi,
yang kutinggalkan semalam.
Aku pun tersenyum, memberinya remah roti.
Dia makan dengan sopan,
tak berebut, tak bersuara.
Kemudian mengepakkan sayap,
meninggalkan bayangan di dinding.
Pagi pun terasa lebih terang setelah kepergiannya.
Aku mengikuti jejaknya,
melihat ia bergabung dengan kawanan.
Mereka berputar di udara,
membentuk lingkaran sempurna.
Seperti tarian untuk menyambut matahari.
Kini aku mengerti,
merpati itu adalah utusan.
Dia datang bukan hanya untuk roti,
tapi untuk mengingatkanku:
pagi selalu membawa kesempatan baru.
