SMARTIPS.ID – Desa Adat Gelgel di Kabupaten Klungkung, Bali, adalah permata sejarah yang tak ternilai. Desa ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan bekas pusat kekuasaan raja-raja dinasti Kepakisan, yang dikenal sebagai pewaris Kerajaan Majapahit di Bali.
Pada masa Dalem Watur Enggong, Gelgel mencapai puncak kejayaannya, membentangkan kekuasaan hingga ke Lombok dan Blambangan. Warisan kejayaan ini terpatri abadi dalam struktur desa, nama banjar, pura, dan prasasti yang masih terpelihara hingga kini, mengukuhkan Gelgel sebagai desa heritage yang menakjubkan.
Baca Juga: Jelajahi Pesona Sejarah Kota Lama Semarang
Tiga Warisan Budaya Tak Benda Gelgel yang Terancam Punah
Keagungan sejarah Gelgel diwujudkan dalam tiga warisan budaya tangible dan intangible yang memiliki fungsi sakral dan spiritual tinggi:
1. Seni Lukis Wayang Kamasan
Seni lukis khas ini tidak hanya menceritakan kisah epik Mahabarata dan Ramayana, tetapi juga memiliki fungsi sakral dalam ritual keagamaan. Sayangnya, minat generasi muda untuk menekuni seni klasik ini menurun drastis.
- Kutipan Kunci: “Minat generasi muda untuk menekuni seni lukis ini kian menurun,” ujar Pande Sumantra, pemilik Sanggar Rumah Wayang Kamasan.
2. Tari Wayang Wong
Tarian ini menempati posisi penting sebagai tarian wali atau tarian sakral yang hanya dipentaskan dalam upacara keagamaan di Pura Bale Batur Kamasan. Tarian ini kaya akan nilai religius dan spiritual yang harus dijaga kesinambungannya.
Baca Juga: Sejarah Panjang Jakarta: Dari Sunda Kelapa hingga Menjadi Ibu Kota Republik Indonesia
3. Lontar Klasik Kuno
Gelgel menyimpan koleksi lontar klasik yang merupakan karya seniman masa lalu, seperti I Gusti Arya Dauh Bale Agung. Naskah-naskah ini adalah sumber pengetahuan dan nilai sejarah penting yang rentan kerusakan karena usia bahan lontar yang rapuh.
Strategi Revitalisasi: Menghidupkan Tradisi Melalui Inovasi Digital
Menyadari ancaman pudarnya warisan, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Warmadewa meluncurkan program revitalisasi yang komprehensif, melibatkan generasi muda dan teknologi.
Fokus Utama Program Revitalisasi:
- Regenerasi Seni Lukis: Anak-anak muda dilibatkan dalam workshop melukis wayang Kamasan. Karya mereka dituangkan ke media modern seperti tas kantong, menjembatani tradisi ke wujud yang lebih kontemporer.
- Digitalisasi Lontar: Bekerja sama dengan peneliti BRIN, tim melakukan digitalisasi naskah lontar kuno. Langkah ini memastikan bahwa teks klasik dapat dipelajari lintas generasi meski bahan aslinya rapuh.
- Pelatihan Tari Sakral: Generasi muda (sekaha teruna-teruni) dilatih menari wayang wong oleh penari senior, menjamin tarian wali ini terus diwariskan dalam konteks ritual yang suci.
Dr. I Made Mardika menyatakan bahwa revitalisasi ini tidak hanya menjaga keaslian tradisi, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui inovasi kreatif.
Desa Gelgel kini bertransformasi dari sekadar situs sejarah menjadi “Authentic Living Culture”—ruang hidup budaya yang tumbuh melintasi generasi. Ini menjadikannya daya tarik wisata budaya utama di Bali.
